ASKEP ANAK DENGAN DHF

 



BAB II

TINJAUAN TEORI

  1. Definisi 

Virus dengue, termasuk genus Flavivirus, kluarga flaviridae. Terdapat 4 serotipe virus yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3,dan DEN-4. Keempatnya ditemukan diindonesia dengan Den-3 serotipe terbanyak. Infeksi salah satu serotipe akan menimbulkan antibody terhadap serotipe yang bersangkutan, sedangkan antibody yang terbentuk terhadap serotipe lain sangat kurang, sehingga tidak dapat memberikan perlindungan yang menandai terhadap serotipe yang lain. Seseorang yang tinggal didaerah endemis dengue dapat terinfeksi oleh 3 atau 4 serotipe selama hidupnya. Keempat serotipe virus dengue dapat ditemukan diberbagai daerah diindonesia. (Sudoyo Aru, Dkk 2009)

  1. Mekanisme Penularan

 Virus Dengue penyebab DHF tidak dapat menular melalui udara, cairan tubuh, makanan, maupun minuman. Hal ini karena virus Dengue tidak mampu bertahan hidup jika berada di luar sel atau jaringan yang hidup.

Virus Dengue hidup dan menular dengan bantuan nyamuk Aedes aegypti, Aedes albopictus, atau Aedes polynesiensis. Dari ketiga jenis nyamuk ini, Aedes aegypti merupakan host (tempat hidup) dan vektor utama virus Dengue. Nyamuk ini berasal dari Brazil dan Ethiophia.

Penularan DHF terjadi melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti betina yang telah membawa virus Dengue dari penderita lainnya. Nyamuk ini biasanya aktif menyerang manusia pada pagi dan siang hari. Virus Dengue masuk ke tubuh nyamuk melalui darah yang diisap oleh nyamuk tersebut dari seorang penderita DHF. 

Di dalam tubuh nyamuk, virus Dengue akan masuk ke usus halus (intestinum) dan berkembang biak di sana. Setelah itu, virus akan berpindah tempat menuju kelenjar air liur dan siap ditularkan lagi. Fase ini disebut masa inkubasi yang memakan waktu 7-14 hari.

Terkadang, nyamuk juga tertular dengue dari manusia. Jika nyamuk betina yang menggiggit orang yang terinfeksi, nyamuk tersebut dapat tertular virus. Mulanya virus hidup di sel yang menuju saluran pencernaan nyamuk.Sekitar 8 hari hingga 10 hari berikutnya, virus menyebar ke kelenjar saliva nyamuk, yang memproduksi saliva (ludah). Ini berarti bahwa saliva yang diproduksi oleh nyamuk tersebut terinfeksi virus dengue. Oleh karena itu, ketika nyamuk menggigit manusia, saliva yang terinfeksi tersebut masuk ke dalam tubuh manusia dan menginfeksi orang sepanjang hidupnya.

Nyamuk aedes aegypti adalah nyamuk yang paling banyak menyebarkan dengue. Ini karena nyamuk tersebut menyukai hidup berdekatan dengan manusia dan makan dari manusia alih-alih dari binatang. Nyamuk ini juga suka bertelur di wadah-wadah air yang dibuat oleh manusia. Dengue juga dapat disebarkan melalui produk darah yang telah terinfeksi dan melalui donasi organ.

Ada beberapa hal yang harus kita perhatikan demi terhindar dari penyakit demam berdarah. Dan hal utama yang terlebih dahulu kita lalukan adalah menjaga kebersihan lingkungan, agar tidak ada genangan air yang bisa dijadikan sebagai tempat perkembangbiakan nyamuk.

Menguras tempat air yang selalu kita gunakan untuk kebutuhan sehari-hari, agat tidak ada telur ataupun jentik nyamuk, mengubur dan membuang sampah dengan benar agar tidak ada tempat untuk perkembangbiakan nyamuk. Langkah-langkah tersebut adalah beberapa kegiatan sederhana yang justru memiliki peran penting dalam mencegah dan menghindari penyakit demam berdarah.

Jika memang anda sudah terlanjur terjangkit oleh penyakit demam berdarah, segera lakukan pengobatan agar penyakit demam berdarah yang dikeluhkan tidak menjadi semakin parah. Karena jika tidak segera ditangani dengan tepat, dampak terburuk yang sangat mungkin terjadi adalah dapat mengakibatkan kematian pada penderitanya.

  1. Patofisiologi 

  1. Manifestasi Klinis

  1. Demam dengue

Merupakan penyakit demam akut selama 2-7 hari, ditandai dengan 2 atau lebih manifestasi klinis sebagai berikut :

  1. Nyeri kepala

  2. Nyeri retro-obrital

  3. Miagia/ artraglia

  4. Ruam kulit

  5. Manifestasi pendaharan (petekie atau uji bendung positif)

  6. Leukopenia

  7. Pemeriksaan serologi dengue positif; atau ditemukan DD/DBD yang sudah dikonfirmasi pada lokasi dan waktu yang sama



  1. Demam Berdarah Dengue

Berdasarkan kriteria WHO 1997 diagnosis DBD ditegakkan bilasemua hal dibawah ini dipenuhi:

  1. Demam atau riwayat demam akut antara 2-7 hari, biasanya bersifat bipasik.

  2. Manifestasi perdarahan yang biasanya berupa:

  1. Uji tourniquet positif

  2. Petekie, ekimosis, atau purpura

  3. perdarahan mukosa(epistaksis, perdarahan gusi), saluran cerna, tempat bekas suntikan

  4. hematemesis atau melena 

  5. Trombositpenia < 100.000/ul

  6. Kebocoran plasma yang ditandai dengan 

  7. Peningkatan nilai hematokrit ≥ 20% dari nilai baku sesuai umur dan jenis kelamin. 

  8. penurunan nilai hematokrit ≥ 20% setelah pemberian cairan yang adekuat

  9. Tanda kebocoran plasma seperti : hipoproteinemi asites, efusi pleura

  1. Syndrom syok dengue

Seluruh kriteria DBD diatas disertai dengan tanda kegagalan sirkulasi yaitu:

  1. Penurunan kesadaran, gelisah 

  2. Nadi cepat, lemah

  3. Hipotensi

  4. Tekanan darah turun ≤ 20mmHg

  5. Perfusi perifer menurun

  6. Kulit dingin- lembab

  1. Klasifikasi

Klasifikasi derajat penyakit infeksi virus dengue:




DD/DBD

Derajad

Derajat

Laboratorium


DD


Demam disertai 2 atau lebih tanda: myalgia, sakit kepala , nyeri retroorbital, artralgia

Leukopenia Trobositopenia, tidak ditemukan bukti ada kebocoran plasma

Serolgi dengue positif

DBD

I

Gejaa diatas ditambah uji bending positif

Trombositopenia (<100.000/uI) bukti ada kebocoran

DBD

II

Gejala diatas ditambah pendaharan spontan

DBD

III

Gejala diatas ditambah kegagalan sirkulasi ( kulit dingin dan lembab serta gelisah)

DBD

IV

Syok berat disertai dengan tekanan darah dan nadi tidak terukur





Klasifikasi derajad DBD menurut WHO

Derajat 1

Demam disertai gejala tidak has dan satu satunya manifestasi terarahan adalah uji toroquet positif

Derajat 2

Derajad 1 disertai pendarahan spontan dikulit dan/ atau pendaharan lain.

Derajat 3

Ditemukannya tanda kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lembut, tekanan nadi turun (< 20mmhg) atau hipotensi disertai kulit dingin, lembab, dan pasien menjadi gelisah

Gejala 4

Syok berat, nadi tidak teraba dan tekanan darah tidak dapat diukur

  1. Pemeriksaan Penunjang

  1. Pemeriksaan Laboratorium

  1. Leukopenia terjadi pada hari ke 2 atau 3

  2. Trombositopenia

  3. Hemokonsentrasi; Ht meningkat 20%

  4. Masa pembekuan normal tapi masa perdarahan memanjang

  5. Kimia darah tampak hiponatremia, hipoproteinemia, peningkatan SGOT, SGPT,Ureum darah dan pH darah

  6. Urine : mungkin ditemukan albuminuria ringan

  7. Volume biasanya < 400 ml / 24 jam (oliguria) atau urine tidak ada (anuria), warna urine keruh, klirens kreatinin mungkin agak menurun, natrium > 40 mEg/L karena ginjal tak mampu mereabsorpsi natrium

  1. Sum sum tulang ; Pada awal sakit biasanya hiposeluler, kemudian menjadi hiperseluler pada hari ke-5 dengan gangguan maturasi

  1. Penatalaksanan

Penatalaksanaan penderita dengan DHF adalah sebagai berikut :

  1. Tirah baring atau istirahat baring.

  2. Diet makan lunak.

  3. Minum banyak (2-2,5 liter/24 jam) dapat berupa : susu, teh manis, sirup dan beri penderita sedikit oralit, pemberian cairan merupakan hal yang paling penting bagi penderita DHF.

  4. Pemberian cairan intravena (biasanya ringer laktat, NaCl Faali) merupakan cairan yang paling sering digunakan.

  5. Monitor tanda-tanda vital tiap 3 jam (suhu, nadi, tensi, pernafasan) jika kondisi pasien memburuk, observasi ketat tiap jam.

  6. Periksa Hb, Ht dan trombosit setiap hari.g.Pemberian obat antipiretik sebaiknya dari golongan asetaminopen.

  7. Monitor tanda-tanda perdarahan lebih lanjut.

  8. Pemberian antibiotik bila terdapat kekuatiran infeksi sekunder.

  9. Monitor tanda-tanda dan renjatan meliputi keadaan umum, perubahan tanda-tanda vital, hasil pemeriksaan laboratorium yang memburuk.

  10. Bila timbul kejang dapat diberikan Diazepam. Pada kasus dengan renjatan pasien dirawat di perawatan intensif dan segera dipasang infus sebagai pengganti cairan yang hilang dan bila tidak tampak perbaikan diberikan plasma atau plasma ekspander atau dekstran sebanyak 20  30 ml/kg BB.Pemberian cairan intravena baik plasma maupun elektrolit dipertahankan 12  48 jam setelah renjatan teratasi. Apabila renjatan telah teratasi nadi sudah teraba jelas, amplitudo nadi cukup besar, tekanan sistolik 20 mmHg, kecepatan plasma biasanya dikurangi menjadi 10 ml/kg BB/jam.Transfusi darah diberikan pada pasien dengan perdarahan gastrointestinal yang hebat. Indikasi pemberian transfusi pada penderita DHF yaitu jika ada perdarahan yang jelas secara klinis dan abdomen yang makin tegang dengan penurunan Hb yang mencolok.Pada DBD tanpa renjatan hanya diberi banyak minum yaitu 1½-2 liter dalam 24 jam. Cara pemberian sedikit demi sedikit dengan melibatkan orang tua. Infus diberikan pada pasien DBD tanpa renjatan apabila :

  1. Pasien terus menerus muntah, tidak dapat diberikan minum sehingga mengancam terjadinya dehidrasi.

  2. Hematokrit yang cenderung mengikat.

BAB III

TINJAUAN KASUS

  1. Pengkajian

  1. Pengumpulan Data

  1. Identitas Klien

Nama : An. N

Umur : 8 tahun

Alamat : Ciateul

Suku Bangsa : Indonesia

Agama : Islam

Diagnosa Medis : DHF

  1. Riwayat Kesehatan

  1. Keluhan Utama

Demam 

  1. Riwayat Kesehatan Sekarang

Ibu klien mengatakan bahwa anaknya mengalami demam salama 3 hari dan nyeri sendi, menurut ibu klien anaknya juga mengalami mual dan muntah sekitar 3x/hari. Muntah berupa makanan yang belum dicerna

  1. Riwayat Kesehatan Dahulu

Ibu klien mengatakan bahwa klien belum pernah menderita penyakit seperti ini dan belum pernah dirawat sebelumnya.

  1. Riwayat Kesehatan Keluarga

Ibu klien mengatakan bahwa dalam keluarganya tidak ada yang mengalami gejala serupa.

  1. Data Biologis

  1. Pemeriksaan Fisik

  1. Tanda-Tanda Vital :

  1. Suhu : 38,5◦C

  2. RR : 28 x/menit

  3. Tekanan darah : 90/70 mmHg

  4. Nadi : 96x/menit

  1. Pemeriksaan Menyeluruh

  1. Kulit/permukaan tubuh

Hasil pemeriksaan uji tourniquet (+), CRT < 2 detik, akral hangat

  1. Abdomen

Terdapat nyeri tekan

  1. Ekstremitas bawah

pada ektremitas bawah sinistra terdapat roseola yang hilang dengan penekanan dan terdapat nyeri tekan pada tulang Diagnosa Keperawatan

  1. Pemeriksaan penunjang

  1. Sero-immunologis

kadar anti dengue Ig G positif  dan anti dengue IgM positif

  1. Pemeriksaan darah

  1. Pemeriksaan darah perifer lengkap didapatkan: 

  1. Hb 14,4 gr%

  2. Hematokrit 43 %

  3. Leukosit 2800/mm3

  4. Trombosit 95.000/mm3. 

  1. Hasil pemeriksaan apus darah tepi di dapatkan kesan: 

  1. Leukos it: Jumlah menurun, limposit atifik (+)

  2. Trombosit: Jumlah menurun, morfologi normal

  3. Leucopenia dan trombositopenia suspect infeksi viral

  1. Therapy

  1. IVFD RL 16 tt/menit (makrodrip)

  2. Paracetamol 3x15 ml/oral 

  1. Analisa Data

Data

Etiologi

Masalah






Ds : ibu klien mengatakan bahwa anaknya mengalami demam tinggi selama 3 hari

Do : suhu : 38,5◦C

Viremia

Mengaktifkan sistem komplemen

Membentuk dan melepaskan zat C3a, C5a

PGE2 Hipothalamus

Hipertermi

Hipertermi 

Ds : ibu klien mengatakan bahwa klien mengalami mual muntah sekitar 3x/hari

Do : IMT 17,5 

Abdomen

Mual muntah

Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh




Ds : ibu klien mengatakan bahwa klien demam dan terdapat ruam pada kulit

Do : 

  • terdapat reseola,

  • uji tourniquet (+)

  • trombosit : 95.000/mm3

Hipertermi

Peningkatan reabsorbsi Na+ dan H2O

Permeabilitas membrane meningkat

Agregasi trombosit

Trombositopeni

Resiko perdarahan

Resiko perdarahan

Ds : mual muntah

Do : nyeri tekan abdomen

Mual muntah

Penekanan intraabdomen

Nyeri 

Nyeri 

 

  1. Diagnosa Keperawatan

  1. Hipertermi b.d proses infeksi virus dengue

  2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d mual muntah

  3. Resiko perdarahan b.d trombositopeni 

  4. Nyeri b.d penekanan intra abdomen

  1. Rencana Keperawatan

No.

Diagnosa Keperawatan

Tujuan

Intervensi

1. 

Hipertermi b.d proses infeksi virus dengue


Suhu tubuh dalam rentang normal (36,5-37,5◦C)

  • Monitor suhu

  • Monitor TTV

  • Berikan anti piretik

  • Berikan kompres hangat

  • Tingkatkan sirkulasi udara

2.

Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d mual muntah

 

Status nutrisi terpenuhi

Kriteria hasil :

  • Adanya peningkatan BB

  • Anjurkan untuk makan dalam keadaan hangat

  • Anjurkan untuk makan sedikit tapi sering

  • 3. 

    Resiko perdarahan b.d trombositopeni 


    Tidak terjadi perdarahan

    • Monitor adanya tanda-tanda perdarahan

    • Lindungi pasien dari trauma yang dapat menyebabkan perdarahan

    4.

    Nyeri b.d penekanan intra abdomen

     

    Mampu mengontrol nyeri

    • Ajarkan manajemen nyeri

    • Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi


    1. Penatalaksanaan

    Klien mendapatkan IVFD ringer laktat 16 tetes/menit melalui makrodrip, paracetamol 3 x 15 ml per oral. Klien diobservasi ketat setiap 4 jam dan dilakukan pemeriksaan darah perifer lengkap setiap 8 jam, klien mendapat diet makanan biasa 1000 kkal dan 2 kali ekstra susu @ 200 ml.



    BAB IV

    PENUTUP

    1. Kesimpulan

    DHF adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang tergolong arbovirus dan masuk ke dalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypti. Penyebab utama adalah Arbovirus melalui gigitan nyamuk aedes (Aedes Albopictus dan Aedes Aegypti) yang menjadi vector utamanya. Adanya vector tersebut berhubungan dengan sanitasi lingkungan yang kurang baik dan penyediaan air bersih yang langka. DHF dapat dicegah dengan rutin melakukan 3M, menjaga sanitasi lingkungan tetap bersih, mengkonsumsi makanan yang bergizi.

    1. Saran 

    Menjaga sanitasi lingkungan tetap sehat dan rutin melakukan 3M supaya kita terhindar dari terjangkitnya virus dengue.


    DAFTAR PUSTAKA

    Kusumawardani, E., Arkhaesi, N., & Hardian, H. (2012). Pengaruh penyuluhan kesehatan terhadap tingkat pengetahuan, sikap dan praktik ibu dalam pencegahan demam berdarah dengue pada anak (Doctoral dissertation, Fakultas Kedokteran).

    Nurarif, Amin Huda dan Hardhi Kusuma. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis dan NANDA Nic-Noc. Edisi Ketiga. Jogjakarta: Mediaction.

    Yudhastuti, R., & Vidiyani, A. (2005). Hubungan kondisi lingkungan, kontainer, dan perilaku masyarakat dengan keberadaan jentik nyamuk Aedes aegypti di daerah endemis demam berdarah dengue Surabaya. Jurnal Kesehatan Lingkungan, 1(2).

    Komentar

    Postingan populer dari blog ini

    MAKALAH KLB (KEJADIAN LUAR BIASA)

    ROLEPLAY KEPERAWATAN "MENGHARGAI PERBEDAAN"